Kata Mui Soal Perlu

Written by Andali on June 21, 2020 in Efek vaksinasi covid with no comments.

Dari semua jenis vaksin itu pun tidak semuanya memenuhi kriteria halal dan suci, sehingga jumlah vaksin yang halal dan suci ini semakin terbatas jumlahnya. Kapasitas produksi vaksin yang mereka miliki pun masih kalah jauh dari kebutuhan vaksin yang diperlukan masyarakat seluruh dunia. Hal lain yang perlu diingat, adanya vaksin tidak boleh mengendurkan ketaatan kita dalam menerapkan protokol kesehatan. Setelah mendapat vaksin pun, kamu tetap dianjurkan memakai masker, menjaga jarak aman, dan mencuci tangan untuk menurunkan risiko penularan virus Corona.

Dengan adanya kajian AstraZeneca seperti tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan fatwa MUI penggunaan bahan asal babi pada tahap proses produksi manapun tidak diperbolehkan. Laporan hasil kajian langsung diserahkan ke Komisi Fatwa MUI untuk ditetapkan standing halal-haramnya. Bogor – Berdasarkan hasil kajian dokumen yang dilakukan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia terhadap penggunaan bahan asal babi pada proses pembuatan COVID-19 AstraZeneca yang diproduksi oleh SK Biosicience Co. Ltd., Korea, disimpulkan bahwa vaksin ini menggunakan tripsin asal babi pada proses pembuatannya.

Menurut Dewan Fatwa UEA, vaksin virus corona tetap diperbolehkan untuk digunakan meski ia mengandung bahan-bahan non-halal yang dilarang umat Islam. Disebutkan, aturan Islam mengizinkan itu jika tidak ada alternatif lainnya. Selanjutnya, fatwa utuh penggunaannya menanti hasil kajian dari Badan POM terkait dengan keamanan vaksin. Izin EUA dan fatwa halal MUI untuk CoronaVac akan menjadi lampu hijau penggunaan vaksin Covid-19 Sinovac agar bisa disuntikkan kepada masyarakat dan umat Islam. MUI sendiri, hari ini telah mengeluarkan fatwa halal untuk vaksin Covid-19 buatan China tersebut. Ketua MUI Bidang Fatwa dan Urusan Halal Asrorun Niam mengatakan bahwa vaksin Sinovac hukumnya halal dan suci.

Apakah vaksin covid halal

Selain itu, hasil analisis terhadap efikasi vaksin CoronaVac dari uji klinik di Bandung menunjukkan efikasi vaksin sebesar 65,3%, dan berdasarkan laporan dari efikasi vaksin di Turki adalah sebesar 91,25%, serta di Brazil sebesar 78%. Hasil tersebut telah memenuhi persyaratan WHO dengan minimal efikasi vaksin adalah 50%. “Efikasi vaksin sebesar sixty five,3% dari hasil uji klinik di Bandung tersebut menunjukkan harapan bahwa vaksin ini mampu untuk menurunkan kejadian penyakit COVID-19 hingga sixty five,3%,” ujar Kepala Badan POM.

“Kami pun juga memberikan data-data mutu dari vaksin COVID-19 ini yang menunjukkan tidak ada proses atau tidak menggunakan bahan-bahan yang sifatnya mengandung yang tidak halal,” kata Penny dalam konferensi pers yang diadakan secara digital di hari yang sama. “Ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 guna ikhtiar menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity,” papar Asrorun. Sebagaimana diketahui, jika goal vaksinasi tidak tercapai dan banyak orang di dunia tidak mendapatkan vaksinasi Covid-19, maka pandemi ini bisa berumur panjang, akibat transmisi yang terus terjadi di masyarakat. Vaksin Covid-19 yang dikembangkan Oxford University dan AstraZeneca untuk melawan infeksi virus corona.

Sebelumnya, LPPOM MUI menemukan bukti bahwa vaksin COVID-19 produksi AstraZeneca dalam proses produksinya menggunakan menggunakan unsur tak suci dan haram lantaran mengandung tripsin yang berasal dari pankreas babi. Namun, pada saat BPOM mengeluarkan izin penggunaan darurat, masa simpan didasarkan pada knowledge stabilitas dari vaksin tersebut. Kendati demikian, Penny Lukito menegaskan, bahwa izin penggunaan kondisi darurat (Emergency Use Authorization/EUA) vaksin Astrazeneca tidak dicabut. Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia , Asrorun Niam Sholeh, mengatakan ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam kondisi darurat seperti ini untuk penggunaan vaksin Corona. Meski dinyatakan haram, namun MUI menyatakan hukum penggunaan vaksin AstraZeneca disuntikkan pada masyarakat adalah diperbolehkan. WowKeren – Banyak negara lain yang disebut meminta pengakuan dari Indonesia terkait sertifikasi halal.

Karena itu, dalam fatwanya, MUI juga meminta kepada pemerintah untuk mengupayakan vaksin yang halal bagi masyarakat muslim. MUI ujarnya, sangat bertanggungjawab dalam mengeluarkan fatwa halal dan suci untuk virus Covid-19 Sinovac. Ia berharap, masyarakat berpartisipasi aktif untuk menjadi penerima vaksin virus corona.

Poin pertama Fatwa Nomor 02 Tahun 2021 ini menyatakan bahwa vaksin virus corona buatan Sinovac Life Science Co Ltd China dan PT Biofarma hukumnya suci dan halal. Pemerintah juga mengimbau agar masyarakat selalu bijak dalam memilih informasi dan tidak termakan isu-isu vaksin COVID-19 yang berpotensi mengganggu program vaksinasi. Baiklah, sebagai bangsa yang punya ‘falsafah’ kalau bisa dibikin repot untuk apa dibuat simpel, kita pun berepot-repot dahulu demi berhalal-halal kemudian. Bila ditemukan bahan-bahan haram di dalamnya, vaksin harus dinyatakan halal. Alasannya, ya itu tadi, vaksin menjaga kehidupan di situasi darurat pandemi covid-19. Adapun vaksin CoronaVac sebelum digunakan oleh masyarakat Indonesia diharapkan mengantongi sertifikasi halal dari MUI/BPJPH dan izin penggunaan darurat/EUA dari BPOM.

Comments are closed.