Wajib Tahu, Ini Perbedaan Vaksin Astrazeneca Dan Sinovac

Written by Andali on July 22, 2020 in Efek vaksinasi covid with no comments.

Seorang anak perempuan berusia eleven tahun berhasil lolos dari aksi penculikan setelah melawan pelaku dengan menendang dan memukul pelaku. Pihak AstraZeneca mengklaim vaksinnya memiliki nilai efektivitas keseluruhan 70,4%. Menurut penelitian, Vaksin AstraZeneca 90% efektif jika diberikan setengah dosis, diikuti dengan dosis penuh. Materi genetik ini kemudian akan bereplikasi untuk memicu respons imun dan produksi antibodi.

Lalu, dilansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia, tidak semua proses pembuatan vaksin menggunakan tripsin babi. Karena enzim dari hewan babi harus benar-benar dibersihkan agar tak mengganggu proses pengolahan vaksin selanjutnya. Menurut kajian dari Majelis Ulama Indonesia , proses pembuatan vaksin AstraZeneca menggunakan tripsin hewan babi. AP melaporkan bahwa dosis dibuat di fasilitas Emergent BioSolutions di Baltimore, yang mendapat kritik keras karena daftar panjang masalah kebersihan dan produksi yang ditemukan selama inspeksi BPOM AS. Psaki mengatakan, pemerintahan Amerika masih membahas mekanisme distribusi vaksin termasuk lokasi wilayah dan bagaimana pembagiannya.

Kepala Institut Vaksin Nasional Thailand Nakorn Premsri mengatakan, vaksin COVID-19 yang diproduksi di Thailand dijadwalkan siap digunakan untuk vaksinasi massal pada Juni 2021.

Sementara vaksin yang dibuat Sinovac, menggunakan inactivated virus atau virus utuh yang sudah dimatikan. Hal itu bertujuan untuk memicu sistem kekebalan tubuh terhadap virus tanpa menimbulkan respons penyakit yang serius. Metode inactivated virus ini adalah metode yang sering dipakai dalam pengembangan vaksin lain seperti polio dan flu. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan melaporkan mutasi virus corona di Indonesia mencapai 54 kasus mutasi SARS-CoV-2. Pengiriman pertama itu akan berisi satu juta dosis vaksin AstraZeneca dari Institut Serum India.

“Lebih dari 1 miliar dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca telah diterima masyarakat dunia. WHO juga sudah menyatakan vaksin ini aman,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima oleh VOA, Rabu (19/5). Sementara itu, pakar imuniasi dr Elizabeth Jane Soepardi meyakini vaksin AstraZeneca cukup aman untuk digunakan. Pasalnya vaksin COVID-19 buatan Inggris ini sudah digunakan dalam jumlah yang sangat banyak di berbagai negara di dunia.

Seperti efek berantai, belasan negara dari Eropa maupun benua lainnya, memutuskan hal serupa. Negara-negara benua biru berharap segera keluar hasil last investigasi dari Badan Obat-obatan Eropa (European Medicines Agency/EMA). Sementara di Turki efikasi Sinovac mencapai 91,25 persen dan Brasil sebesar 50,four persen.

Sebelum didistribusikan nanti, Psaki memastikan AS akan memerikan terlebih dahulu kualitas produk vaksin AstraZeneca buatan AS. Vaksin AstraZeneca juga telah disetujui oleh WHO untuk masuk dalam Emergency Use Listing. Universitas Oxford bekerja sama dengan perusahaan Inggris-Swedia, AstraZeneca, mengembangkan vaksin Covid-19 bernama resmi AZD1222. Evaluasi dilakukan terhadap knowledge semua kasus tromboemboli yang terjadi setelah vaksinasi. EMA memastikan analisis cepat serta menyeluruh terhadap data-data dan keadaan klinis seputar kasus-kasus itu terus berlanjut, untuk memastikan apakah pemicunya vaksin AstraZeneca atau bukan.

Sementara itu, vaksin Covid-19 buatan Sinovac hanya membutuhkan penyimpanan dalam lemari es, dengan standar suhu 2-8 derajat celcius, dan dapat bertahan hingga 3 tahun lamanya. “Kalau masih ragu boleh periksaan diri, untuk orag berpotensi memiliki gangguan darah, tapi kalau tidak punya, tidak perlu takut,” pungkas Reisa. Sedangkan di Indonesia, vaksin AstraZeneca dipastikan sudah mengantongi EUA BPOM dan mendapatkan fatwa halal dari Majelis Ulama Indonesia , ditambah manfaat vaksin AstraZeneca jauh lebih besar dibanding risikonya. Perusahaan juga ingin menambah fasilitas produksi vaksin, yang akan disediakan tanpa mengambil keuntungan selama pandemi ini. TEMPO.CO,Roma – Perusahaan produsen obat asal Inggris, AstraZeneca Plc, telah menandatangani kesepakatan kontrak vaksin Covid-19 untuk Italia, Jerman, Prancis, dan Belanda. Wakil Wali Kota Yogyakarta ini mengatakan, sampai saat ini vaksin tersebut belum dipakai.

Vaksin Astrazeneca buatan mana

Juga untuk mereka yang tergolong komorbid, yang menghadapi risiko tinggi mengalami gejala sakit berat jika terinfeksi Covid-19. Juga WHO menyarankan vaksinasnya bagi yang mengidap penyakit autoimun dan yang sistem pertahanan tubuhnya lemah karena berbagai penyebab. Tapi juga disarankan untuk melakukan konsuktasi dengan dokter sebelum mendapat vaksinasinya. Organisasi Kesehatan Dunia WHO dalam pernyataan 10 Februari lalu menyarankan, tetap memanfaatkan vaksin AstraZeneca, juga jika di negara bersangkutan tercatat penyebaran varian virus mutasi. Pasalnya, vaksin tetap memberikan perlindungan melawan bagian virus yang tidak mengalami mutasi. Malaysia sendiri telah memulai program vaksinasi pada akhir Februari dengan menggunakan suntikan buatan perusahaan farmasi Amerika Serikat, Pfizer, yang bermitra dengan perusahaan Jerman, BioNTech.

Comments are closed.